Jumat, 08 Juni 2012

PEMBERIAN HADIAH BAGI ANAK DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN MENURUT MARIA MONTESSORI DAN BURRHUS FREDERICK SKINNER


MAKALAH AKHIR SEMESTER
Mata Kuliah LANDASAN PENDIDIKAN SD
Dosen Gregorius Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST., M.A.
Semester Genap 2010/2011




PEMBERIAN HADIAH BAGI ANAK DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN MENURUT
MARIA MONTESSORI DAN BURRHUS FREDERICK SKINNER



logo USD biasa.jpg



Disusun oleh:

Yohanes Leo Mury Yudhistira
101134006
IIA







PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.          LATAR BELAKANG MASALAH
        Banyak teori tentang belajar yang berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Misalnya perkembangan dan perubahan anak didalam keluarga tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya dengan banyak alasan mereka sibuk bekerja.
         Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis seperti diatas pasti akan mendapatkan kasih sayang yang kurang dari kedua orang tuanya. Ketika anak tidak mendapatkan perhatian dari keluarganya maka mereka akan melakukan kegiatan diluar kendalinya. Misalnya anak terlibat dalam Genk di sekolahnya, dengan ini maka konsentrasi anak dalam belajar akan terganggu dan dapat mempengaruhi prestasinya di sekolah.
        Di sisi lain, banyak orang tua yang sangat padat dengan jadwal pekerjaannya, namun ketika liburan sekolah tiba mereka sangat memanjakan anaknya. Hal seperti ini sangat tidak baik. Sebaiknya orang tua dapat meluangkan waktunya untuk mendampingi anaknya. Dengan demikian perilaku buruk dapat terhindar.
Untuk memicu kemajuan belajar , ada orang tua yang memberikan hadiah atau suatu penghargaan. Menurut Montessori penghargaan yang disebabkan oleh motivasi semacam ini kurang baik. Menurut Skinner pemberian hadiah akan mengakibatkan perubahan tingkah laku, siswa hanya akan belajar jika diberi stimulus.






B.           RUMUSAN MASALAH
1.      Mengapa Montessori menganggap bahwa motivasi ekstrinsik seperti pemberian hadiah kurang  baik?
    1. Bagaimana cara menumbuhkan motivasi pada anak secara tepat menurut Montessori?
    2. Mengapa Skinner menganggap  reinforcement berupa pemberiah hadiah merupakan faktor penting dalam belajar?

C. TUJUAN
1.      Mengetahui alasan mengapa Montessori menganggap bahwa motivasi ekstrinsik seperti    pemberian hadiah kurang baik.
2.      Mengetahui bagaimana cara menumbuhkan motivasi anak secara tepat menurut  Montessori.
3. Mengetahui alasan mengapa Skinner menganggap bahwa reinforcement berupa pemberiah   hadiah merupakan faktor penting dalam belajar










BAB II
A.          MONTESSORI : PENDIDIKAN TANPA SEBUAH REINFORCEMENT
Maria Montesori berpendapat bahwa pemberian hadiah dan hukuman merupakan sebuah rangsangan yang kurang baik. Kita dapat melihat biasanya anak akan melakukan kegiatan kalau ada sebuah iming-iming hadiah. Di dalam kelas Montesori dorongan ekstrinsik ( dari luar ) tidak diberikan, melainkan anak-anak diberikan kebebasan untuk berkembang sesuai yang dia inginkan. Anak-anak diberikan kebebasan dan melakukan kegiatan belajar sesuai dengan suasana hatinya.
Ketika melihat dan mengamati dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah tradisional , dapat kita temukan bahwa dorongan dari luar semacam ini banyak digunakan untuk mendapatkan sebuah hasil belajar yang maksimal. Sekolah tradisional juga memberikan punishment terhadap sikap atau perilaku siswa yang tidak baik. Contoh anak tidak mengerjakan PR , guru akan memberikan hukuman yang tidak sesuai dengan kemampuan siswa ( harus mengerjakan rankap tiga ). Guru hanya berpikir bahwa dorongan dari luar seperti ini bertujuan pada suatu proses akhir yaitu sebuah nilai, tidak mempertimbangkan tahap proses. Jika kita melihat secara luas nilai hanyalah sebuah alat ukur. Pada saat ini terkadang orang tua menginginkan anaknya mendapat nilai yang baik, untuk memotivasi orang tua akan memberikan rangsangan berupa hadiah. Misalnya mama akan memberikan kamu mobil-mobilan jika memperoleh nilai yang bagus. Pemberian penghargaan yang disebabkan oleh keadaan dari luar, dalam sekolah tradisional berasal dari asumsi budaya bahwa anak-anak akan termotivasi jika diberikan penghargaan. Cara yang dapat digunakan adalah memberikan kebebasan supaya anak berkreativitas.
Saat anak melakukan kesalahan maka anak menyadarinya dan memperbaiki kesalahannya, kesalahan tersebut mereka jadikan sebagai proses pembelajaran dalam hidupnya. Hal seperti ini merupakan motivasi intrinsik, motivasi ini akan tertanam dalam memori anak lebih lama jika dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik yang menggunakan penghargaan atau hadiah.


Dalam bab ini akan dijelaskan bahwa penggunaan hadiah yang disebabkan oleh keadaan dari luar adalah hasil negatif dari suatu praktek sekolah tradisional :
A.    Dampak negatif dari pemberian hadiah
a.      Fungsi Kognitif
Seorang guru akan menguji materi yang telah diajarkan kepada siswanya. Siswa secara tidak langsung akan merasa terpaksa untuk menghafal, belajar dari semua materi. Siswa yang mengerti, mempunyai niat untuk belajar tanpa adanya paksaan. Siswa yang belajat tanpa adanya paksaan akan lebih mudah memahami materi pembelajaran. Fungsi kognitif tidak normal ketika suatu penghargaan telah diharapkan. Contohnya ketika semua materi telah selesai diajarkan , guru memberitahukan kepada siswa bahwa besok akan diadakan ujian dan kalian harus belajar. Guru secara tidak langsung telah memaksa siswa untuk belajar, dan siswa terpaksa belajar karena akan ujian. Mereka hanya akan belajar jika disuruh. Perilaku semacam ini merupakan dorongan ekstrinsik yang salah dalam fungsi kognitif.
b.      Kemampuan Artistik
Motivasi artistik juga mempunyai dampak bagi tingkat kreativitas seorang anak. Contoh anak diharuskan mengambar bentuk ayam,pegunungan sesuai dengan contoh yang ada. Anak hanya terpaku pada contoh yang diberikan . Jika anak hanya disuruh mengambar sesuai dengan contoh maka daya kreativitas anak tidak akan berkembang. Seharusnya kita memberikan kebebasan supaya anak dapat berimajinasi sesuai dengan kemampuannya. Guru yang hanya memberikan dorongan ekstrinsik yang hanya terpaku pada contoh akan merusak serta mematikan daya kreativitas anak.
B.     Kelas Montesori tanpa penghargaan
a.      Kendali kesalahan
Di dalam sekolah Montesori tidak ada sistem menilai bagi anak, melainkan material sebagai alat kendali kesalahan. Contoh anak menaruh 1silinder kayu, anak salah memasukkan kedalam lubang yang besar padahal itu untuk lubang yang kecil. Dari hal ini anak akan belajar dari kesalahannya. Anak akan merasa tertantang dan bersemangat untuk menjadi lebih baik. Anak akan berlatih berkali-kali untuk melakukannya dan akhirnya akan mengetahui kesalahannya dan mencoba memperbaiki tanpa bantuan dari orang lain. Motivasi intrinsik seperti ini akan tertanam lebih lama dalam memori anak sehingga anak dapat menjadikan kesalahan sebagai pengendali permasalahan yang dihadapi oleh anak. Kendali kesalahan dalam kelas Montesori sangat penting karena tidak menggunakan penghargaan dari luar, melainkan dorongan rasa ingin tahu yang timbul dari dalam diri anak.
Gambar 1. Empat set silinder dan tempatnya dengan berbagai dimensi yang berbeda.

b.      Pengulangan
Guru dalam kelas Montesori hanyalah sebagai fasilisator. Pengulangan akan menjadikan anak menyelesaikan latihan dengan tepat tanpa tergantung guru. Ketika anak melakukan kegiatan belajar yang berhubungan dengan perkalian, anak pada awalnya akan menghafal daftar perkalian. Ketika anak dalam kegiatan menghafal melakukan kesalahan maka anak akan merenungkan kesalahannya dan ia akan melakukuan kegiatan menghafal sambil dengan mempraktekkan. Dengan kegiatan pengulangan maka anak akan menimbulkan pola pemahaman anak yang baru.




 

 [1] Contoh gambar diatas diambil dari sumber http://www.montessorisupplier.co.za

BAB III
B.SKINNER :PENDIDIKAN DENGAN MENGGUNAKAN REINFORCEMENT
Skinner menganut teori belajar Behaviouris. Behaviouris adalah dasar teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Teori ini tidak mengakui adanya kecerdasan bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu proses belajar.
Menurut Skinner ( J.W. Santrock,272 ) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Penguatan dan hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya , hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Stimulus yang bekerja memperkuat atau reward, akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon operan. Dengan kata lain reward akan meningkatkan diulanginya suatu respon dan setiap respon yang diikuti stimulus  yang memperkuat atau hadiah, maka akan cenderung selalu diulangi. Siswa hanya akan belajar jika diberikan stimulus dan pada akhirnya siswa mempunyai ketergantungan. Teori ini menekankan adanya penguatan dan hukuman , ketika seorang siswa memperoleh nilai yang baik maka akan diberikan hadiah, dan ketika memperoleh hasil yang kurang baik maka guru akan memberikan sebuah nasihat. Hal ini mempunyai 2 dampak yaitu positif dan negatif. Dari sisi positif anak akan lebih bersemangat dalam belajar karena mendapatkan penguatan berupa pujian ataupun hadiah. Dari sisi negatif anak akan meras takut jika nilainya jelek sebab akan mendapatkan hukuman. Dalam teori mempunyai kelemahan karena dalam proses pembelajaran siswa menjadi tidak kreatif dan produktif.
Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. Operant conditioning menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Berhasil atau tidaknya pembelajaran tergantung pada stimulus yang diberikan oleh guru. Siswa dalam sistem pembelajaran ini di dalam kelas hanya datang,duduk,catat dah hafal.
Teori belajar selalu berpusat pada tokoh sentral yaitu guru bahwa yang menentukan apa yang harus dipelajari siswa adalah guru. Sistem teori ini juga selalu berpusat pada komunikasi satu arah, bersikap otoriter dan sentral.
Dalam memberikan suatu reward perlu diadakan jadwal pemberiaan hadiah:
(Psikologi pendidikan,1995:78)
1.Contineous schedule      = Tiap-tiap respon ada reward;jika putus habis
2. Partial schedule             =  Stimulus diikuti respon        
3.Fixed interval      = Tiap interval waktu tertentu. Interval waktunya                                      3 menit-5 menit-7 menit-9 menit dan seterusnya
4. Interval variable            = . Tiap waktu bermacam-macam diberi hadiah. Dalam  menerima subjek untuk mendapatkan penguat berikutnya bisa lebih awal atau terkadang lebih lambat
5. Fixed ratio                     = Subjek mendapatkan respon setiap ia memunculkan beberapa respon.
6. Rasio variable                = Setiap beberapa kali dalam waktu yang tidak menentu,  diberikan hadiah.  Misalnya Suatu ketika 2 kali diberi hadiah, waktu lain lagi sudah 7 kali baru diberi hadiah dan seterusnya.
Dari keenam cara jadwal pemberiah hadiah diatas ternyata Variable rasio  yang paling baik karena hadiah diberikan oleh guru  hanya kadang –kadang, guru juga memandang pemberian hadiah jika dipandang perlu.
Beberapa prinsip belajar yang diterapkan oleh Skinner antara lain:
(Psikologi pendidikan,1995:80-81)
1. Hendaknya bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis sistematis
2.  Hasil belajar harus segera diberitahukan siswa, jika salah dibetulkan , dan jika benar  diberi penguat.
3.   Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar
4.   Bahan pengajaran terprogram secara linear, yaitu sistem modul
      5.   Tes hendaknya ditekankan untuk kepentingan diagnostik
6.      Dalam proses mengajar lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7.      Tidak menggunakan hukuman dalam pendidikan.
8.      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk menghindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9.      Tingkah laku yang tidak diinginkan,bila dibuat anak,dibiarkan tidak   diperhatikan, tetapi tingkah laku yang diinginkan, diberikan reinforcemen.
10.   Hadiah diberikan kadang-kadang,apabila perlu
11.   Tingkah laku yang diinginkan ,dianalisis kecil-kecil,semakin meningkat mencapai   tujuan.
12.  Sangat mementingkan 2shaping
13.  Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan
14.  Dalam belajar menggunakan teaching machine.
15.  Melaksanakan 3mastery learning




           
  2shaping adalah pengarahan agar mencapai tujuan
    3mastery learning adalah anak mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing  karena  tiap anak berbeda-beda iramanya
BAB IV
NON REINFORCEMENT DAN REINFORCEMENT DALAM PERBANDINGAN
Montessori dalam proses pembelajaran anak diberikan kebebasan. Mengapa diberikan kebebasan? Supaya anak dapat berproses, berkembang dan dapat beraktifitas secara alamiah. Dalam kelas montessori penggunaan penghargaan tidak diberlakukan atau diberikan . Guru hanyalah sebagai pendamping , selebihnya anak aktif belajar dan bermain bersama teman-temannya. Sistem pendidikan juga sangat berbeda dengan sekolah tradisional karena dalam kelas montessori guru tidak menilai anak mereka mengenal materi sebagia alat pengendali kesalahan. Anak akan segera mengerti dan secara cepat akan mengatsi masalah yang dihadapi tanpa adanya reinforcemen dan bantuan dari guru ataupun teman-temannya. Mereka berusaha memperbaiki kesalahannya karena anak mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi dan hal itu timbul dari dalam dirinya sendiri tanpa adanya motivasi ekstrinsik. Sisi positif dari metode ini dalam diri anak terbangun rasa percaya diri, keberanian dalam memutuskan sustu masalah dan mencoba sesuatu yang baru. Anak bukan saja memperoleh pemahaman baru, ia jug mendapatkan pengalaman dan pemahaman yang timbul dari penemuannya.Evaluasi selalu dilakukan oleh guru secara konsisten. Dalam evaluasi anak tidak diberikan nilai atau pujian sebagai tanda evaluasi. Hal ini dilakukan supaya anak lebih bebas berkreasi, jika mereka mengetahui bahwa mereka  sedang diamati maka anak akan terpaku pada hasil evaluasi sehingga kreatifitas anak terhambat.
Teori belajar menurut Skinner menekankan pada pentingnya motivasi ekstrinsik dalam belajar. Skinner memakai istilah reinforcement. Dalam proses pembelajaran antara anak yang satu dengan lainya berbeda yaitu kecepatan menerima respon. Ketika seorang anak semakin cepat menerima reinforcement , maka akan mendorong semangat anak untuk belajar. Penerapan teori skinner dalam pendidikan harus melaksanakan mastery learning yaitu anak mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena setiap anak berbeda-beda dalam menerima iramanya. Ketika suatu sekolah menerapkan teori ini maka akan mengakibatkan murid naik atau tamat sekolahnya dalam waktu yang berbeda-beda. Ketika anak di dalam melakukan kesalahan, mereka tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi secara individu melainkan mereka meminta bantuan kepada guru ataupun teman-temannya. Sehingga ketika anak menemui kesalah mereka selalu bertanya dan bertanya dan hal ini menjadikan anak hanya terpaku terhadap orang lain.

BAB V
REFLEKSI ATAS MAKNA PEMIKIRAN MONTESSORI DAN SKINNER
Ada beberapa teori belajar dan pembelajaran baik masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Masing-masing teori memiliki kelebihan dan kekurangan, tugas kita sebagai calon guru adalah memahami dari masing-masing teori tersebut dan memadukan teori tersebut untuk menciptakan suatu inovasi teori belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Menurut saya teori belajar menurut Montessori ini sangat bagus diterapkan di sekolah-sekolah indonesia, karena anak di dalam kelas tidak terlalu dituntut oleh guru, anak dibiarkan bebas untuk belajar sesuai keinginannya. Pembentukan mental dan rasa percaya diri juga sangat baik ketika anak belajar di dalam kelas ini sebab ketika anak menemukan mereka tidak langsung bertanya kepada guru. Bu kenapa ini bisa seperti ini? Melainkan anak berusaha memecahkan masalah tersebut secara sendiri dengan harapan anak mendapatkan pemahaman yang baru. Pembelajaran kelas Montessori di indonesia masih jarang ditemukan karena biaya yang sangat mahal. Bukan hanya untuk biaya pendidikanna tapi juga alat-alat yang digunakan. Maklum biaya yang mahal, guru profesional serta sarana yang sangat  memadahi maka akan mmenghasilkan anak-anak yang berkualitas.
Metode pembelajaran menurut Skinner untuk jaman sekarang ini ternyata masih banyak digunakan di sekolah indonesia. Mungkin guru yang sudah tua masih terbawa pengajaran pada jaman dulu dan juga asumsi budaya yang beranggapan bahwa anak yang diberikan penghargaan akan lebih termotivasi untuk belajar. Ketika saya bertanya kepada seorang guru SD  yang  ada di dekat rumah saya , kebetulan guru itu sudah tua. Guru tersebut juga memberikan hadiah kepada muridnya setiap akan kenaikan kelas, hadiah diberikan kepada rangking 1, 2 dan 3. Hal ini bertujuan untuk menambah semangat belajar siswa. Untuk siswa yang tidak mendapatkan rangking guru memberikan nasihat supaya belajar lebih rajin.





BAB VI
KESIMPULAN
1.            AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
   Motivasi ekstrinsik seperti pemberian reward kurang baik karena dari penggunaan penghargaan   itu akan menyebabkan fungsi kognitif, kemampuan artistik dan kreatifitas anak serta perilaku prososial anak menjadi tidak terkontrol serta anak menjadi tidak berkembang.
2.            Cara menumbuhkan motivasi pada anak secara tepat menurut Montesori adalah dengan cara   menggunakan kendali kesalahan, pengulangan, pengevaluasian.
3.                  Reinforcement berupa pemberiah hadiah merupakan faktor penting dalam belajar karena anak akan lebih bersemangat dalam belajar.












                                                                                                    

DAFTAR REFERENSI
 Lillard, Angeline Stoll, Montessori, The Science behind the Genius, Oxford: Oxford University Press, 2005.
F. Montessori, M. (1995). The absorbent mind.New York: Henry Holt.
Hill, W.F. (2009).Theories of learning.Bandung:Nusa Media.
Tim penyusun.1995.Psikologi pendidikan.Yogyakarta:UPP Universitas Negri Yogyakarta.
Diakses tanggal 30 juni 2011 jam  17;01 http://www.scribd.com/doc/21251076/TEORI-BEHAVIORISME

                                                                                                                    

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda